A riqueza é um bom servo, mas um mau mestre. Kekayaan adalah pelayan yang baik, tetapi majikan yang buruk.
"A riqueza é um bom servo, mas um mau mestre." (Ahr-EE-keh-zah eh oong bom SER-voh, mahs oong mau MES-treh) adalah sebuah peribahasa yang berarti bahwa kekayaan bisa membantu kita, tetapi jika kita terlalu terikat padanya, itu bisa menjadi masalah.
Penjelasan: Kekayaan atau uang bisa sangat berguna.
Misalnya, kita bisa menggunakan uang untuk membeli makanan, pakaian, dan pendidikan.
Dalam hal ini, kekayaan berfungsi sebagai "pelayan yang baik".
Contoh dalam kalimat: - "Com o dinheiro, podemos comprar comida e roupas." (Kohm o jee-NEY-roh, poh-DEH-mohs kump-RAHR koh-MEE-dah eh HOH-pahs.) (Artinya: Dengan uang, kita bisa membeli makanan dan pakaian.) Namun, jika kita terlalu fokus pada kekayaan, kita bisa kehilangan hal-hal yang lebih penting dalam hidup seperti cinta, persahabatan, dan kebahagiaan.
Dalam situasi ini, kekayaan menjadi "majikan yang buruk".
Contoh lain: - "Se você só pensa em ganhar dinheiro, pode esquecer dos amigos." (Seh voh-SEH soh PEN-sah em gan-YAR jee-NEY-roh, POH-jeh es-keh-SER dohs ah-MEE-gohs.) (Artinya: Jika kamu hanya berpikir untuk mendapatkan uang, kamu bisa melupakan teman-teman.) Jadi, penting untuk memiliki keseimbangan.
Kekayaan bisa menjadi alat yang baik jika digunakan dengan bijak, tetapi jangan biarkan itu mengontrol hidup kita.
Ingatlah, "A riqueza é um bom servo, mas um mau mestre" mengajarkan kita untuk selalu menghargai hal-hal yang lebih penting dalam hidup.